Minggu, 08 Januari 2017

SEJARAH BAHALWAN - ASAL USUL KITA (BAHALWAN) DARI BANI ADNAN

Oleh : Washil Bahalwan

SUBHANAALLAH. “JALAN TERBUKA". Surat yang dikirimkan oleh abah Zein Bin Abdurrahman Bahalwan kepada Bahalwan di Ghurfah telah membuka tabir Bahalwan, setelah mendapat balasan dari Karamah Bin umar Bahalwan di Aden. Karena berdasarkan penelitian Karamah Bin umar Bahalwan yang memang ahli di bidang silsilah ada hubungan darah / nasab antara Bahalwan Indonesia dengan Bahalwan Hadramaut.  Oleh karena itu berulang kali penulis ucapkan  rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah سبحانه وتعالى Karena dikaruniai orang tua yang sangat peduli dan perhatian akan asal usul keluarganya.

Menurut abah Zein mengetahui asal usul siapa diri kita dan dari mana kita berasal sangat penting, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan nasab kita. Mungkin kelihatannya mempelajari nasab, sepertinya tidak akan ada artinya (kurang pekerjaan). Akan tetapi bagi abah Zein nasab sangat penting dan utama harus diketahui oleh keluarga dan keturunannya. Karena garis nasab menjadi awal membangun keluarga yang menjadi fondasi bagi keberlangsungan,  ketenangan dan kepastian hidup dan bahkan dalam Islam nasab merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan dalam perjodohan.

Oleh karena itu pada Edisi 17 ini, penulis akan menyampaikan kronologis garis nasab dalam bentuk silsilah (dapat dibuat seperti garis pohon). Sehingga dari sana dapat dengan jelas berasal dari garis mana kita baik secara vertikal maupun horizontal.

Jika Karamah Bin Umar Bahalwan adalah ahli silsilah Bahalwan yang ada di Aden (Yaman), yang salah satu tugasnya adalah meneliti garis jalur nasab Bahalwan Hadramaut. Sedangkan untuk di Indonesia yang ahli silsilah Bahalwan adalah Abdullah Bin Abdurrahman Bahalwan (abah Dula). Maka ketika abah Zein menerima surat balasan dari Karamah Bin Umar Bahalwan, selanjutnya abah Zein langsung berkoordinasi dengan Abdullah Bin Abdurrahman Bahalwan (Abah Dula) yang ada di Banda Neira yang juga masih kakaknya untuk mempelajari dan menelaah lebih lanjut serta membandingkan dengan silsilah yang dibuat oleh Karamah. Dan berdasarkan penelitian Abah Dula, ternyata hasilnya sama dengan kesimpulan Karamah. Yaitu antara Bahalwan Indonesia dan Bahalwan Hadramaut ada hubungan nasab.


Setelah itu  abah Zein dan Abah Dula membuat silsilah, dengan harapan semakin jelas garis anak cucunya. Adapun yang menjadi rujukan (referensi) abah Zein dan Abah Dula dalam membuat silsilah adalah :
>>> Surat balasan Karamah bin umar Bahalwan tentang silsilah Bahalwan 
>>> Buku Tareh terbitan Kairo yang berjudul “القبائل القحطانية والعدنانية والقرشية", yang artinya suku-suku dari Adnan, Qohthon, dan Quraisy. Cetakan Kairo-Mesir.

Berikut langkah-langkah pembuatan silsilah :
TAHAP PERTAMA. Abdullah Bin Abdurrahman Bahalwan (Abah Dula) sebagai penelah telah berusaha mencari asal usul Bahalwan dari buku-buku Tareh dan selalu berkoordinasi dengan abah Zein Bin Abdurrahman Bahalwan di Surabaya. Dengan kerja keras, cermat , sungguh-sungguh dan niat ikhlas, syukur Alhamdulillah akhirnya nama “حلوان“ yang dimaksud oleh Karamah dari BANI ADNAN (عدنان) telah ditemukan di Buku Tareh silsilah cetakan Kairo Mesir dengan judul "القبائل القحطانية والعدنانية والقرشية“.

Dan ternyata nama BAHALWAN, asal usulnya adalah dari nama حلوان (lihat lingkaran merah pohon silsilah) yang kemudian dalam perjalanan sejarah menjadi nama MARGA. Berikut penulis tampilkan pohon silsilah yang dimaksud :         
                                     

TAHAP KEDUA. Dan ternyata nama حلوان bukan saja ditemukan di buku cetakan Kairo Mesir yang berjudul “القبائل القحطانية والعدنانية والقرشية“, melainkan juga dapat ditemukan di buku Tarikh lainnya yang berjudul (سبائك الذهب) artinya "SEBONGKAH EMAS DALAM MENGENAL SUKU-SUKU ARAB", diperoleh dari perpustakaan komersial utama di Jl. Muhammad Ali, Mesir, milik Musthofa Muhammad.

Dalam buku tersebut, nama حلوان ada di halaman 23. Jadi abah Zein dan Abah Dula sangat hati-hati dan berusaha untuk teliti dalam membuat silsilah, karena ini untuk kepastian garis nasab anak cucunya.

Sedangkan inti surat balasan Karamah Bin umar Bahalwan di Aden kepada abah Zein Bahalwan di Surabaya, adalah "BAHALWAN ADALAH KETURUNAN BANI ADNAN (عدنان)". Perlu diketahui bahwasanya zaman dahulu kala bangsa Arab terdiri dari 3 (tiga) suku. Ketiga suku tersebut adalah “BANI ADNAN (عدنان), BANI QURAISY (قريش) yang merupakan garis keturunan Muhammad (رسول الله صلى الله عليه وسلم) dan BANI QOHTHON (قحطان)“.

Dan sebelum penulis memulai membahas masalah ini, penulis meminta Himyar Bahalwan, anak penulis yang kebetulan sedang kuliah di Universitas Islam Madinah, untuk mencari kebenaran tentang buku-buku silsilah tersebut. Penulis harus ekstra hati-hati tentang masalah nasab ini. Dan dari informasi yang diberikan oleh Himyar setelah menelaah buku-buku silsilah, dikatakan bahwa nama حلوان terdapat juga dalam buku yang ditulis oleh Syaikh Abul Fauz, Muhammad Amin Al Bagdadi dengan judul "في معرفة قبائل العرب”. Nama حلوان terdapat pada halaman 72. Buku ini adalah cetakan ulang dari buku سبائك الذهب yang telah disebutkan diatas tadi.

Berikut buku-buku silsilah tersebut :       
                 


Buku ini cetakan ulang dari buku "سبائك الذهب"
                                               

TAHAP KETIGA. Setelah mempelajari berbagai buku referensi tentang silsilah termasuk surat balasan Karamah Bin Umar Bahalwan, maka abah Zein Bahalwan menyusun silsilah Bahalwan yang dibuat pada Rabiul Akhir 1367 H. Berikut ini penulis tampilkan silsilah buatan abah Zein yang ditulis tangan dan menggunakan huruf ARAB PEGO. Salah satu keistimewaan silsilah yang dibuat oleh abah Zein adalah NASAB KE ATAS DARI JALUR LAIN JUGA DICANTUMKAN (Boleh dikatakan abah Zein membuat silsilah dengan memperhatikan garis vertikal dan horizontal).                                                                        



TAHAP KEEMPAT.  Abdullah Bin Abdurrahman Bahalwan (Abah Dula) juga membuat silsilah yang dimulai dari abahnya yang bernama Abdurrahman Bin Muhammad Bin Mubarok Bahalwan. Silsilah yang dibuat oleh Abah Dula, kalau kita bagi menjadi dua, maka akan nampak sebagai berikut : Apabila diambil dari kakek penulis (Abdurrahman Bin Muhammad Bin Mubarok Bahalwan) (tanda lingkaran merah), jika ditarik ke atas menunjukkan bahwa anak cucu Abdurrahman Bin Muhammad Bin Mubarok Bahalwan adalah keturunan Abdurrahman Bahalwan. Sedang kalau ke bawah, itu berarti menunjukkan generasi di atas Abdurrahman Bin Muhammad Bin Mubarok Bahalwan. Sehingga dari sana (garis ke bawah) dapat kita temui nama-nama populer dan telah berkiprah dalam berbagai bidang. Nama-nama tersebut adalah GEIS BAHALWAN menjadi tentara kerajaan Yaman, IMAM NASHIRUDDIN ABDULLAH BAHALWAN menjadi Gubernur Zele’ di Afrika (masih termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Yaman),  HALWAN (asal usul nama Bahalwan), ADNAN, ISMAIL ADDABIH dan berakhir di IBRAHIM AL KHOLIL.

Silsilah yang disusun oleh Abdullah Bin Abdurrahman Bahalwan (Abah Dula) dibuat pada tanggal 25 Muharram 1369 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 19 November 1949 di Banda Neira.                                                                 

   

TAHAP KELIMA. Abang penulis yang bernama Helmi Bin Zein Bahalwan, juga membuat silsilah pada tanggal 17 Ramadhan 1416 Hijriyah / 07 Februari 1996 yang dimulai dari kakek penulis yang juga kakek Helmi Bin Zein Bahalwan yaitu Abdurrahman Bin Muhammad Bin Mubarok Bahalwan dan telah dibagikan ke anak keturunannya. Namun silsilah buatan Helmi Bin Zein Bahalwan hanya mencantumkan anak-laki-laki saja, karena hanya anak laki-laki yang akan meneruskan garis keturunan (marga). Akan tetapi menurut hemat penulis baik anak laki-laki maupun perempuan sebaiknya dicantumkan, sehingga lebih lengkap baik secara vertikal maupun horizontal sehingga satu sama lain saling mengenal.                                               

Dari berbagai silsilah yang telah disusun baik versi Abah Zein, Abah Dula maupun Helmi apabila di tarik garis ke atas (para pendahulu), maka akan bertemu dalam satu titik poros yaitu HALWAN (asal usul nama Bahalwan) kemudian Bani Adnan lalu ke ISMAIL ADDABIH DAN berakhir di IBRAHIM ALKHOLIL. Dan bagi anak cucu Bahalwan yang belum masuk dalam silsilah pohon versi Helmi Bin Zein Bahalwan dapat meneruskan dengan mengambil posisi sesuai dengan garis nasabnya masing-masing. Mungkin saat silsilah dibuat oleh Helmi, mereka-mereka yang junior belum lahir.

Dan manakala dalam melanjutkan silsilah versi Helmi Bin Zein Bahalwan terdapat kendala, maka tanpa bermaksud menggurui ataupun merasa paling mengerti, penulis dengan sangat senang hati akan membantu memberi informasi dan data yang diperlukan. Hal tersebut dilakukan oleh penulis dengan satu niatan ikhlas, yaitu untuk menyatukan potensi Bahalwan yang telah tersebar di seantero dunia sehingga menjadi satu kekuatan yang utuh. 

Dari silsilah tersebut membuktikan bahwa terdapat kebenaran hubungan AL BAHALWAN di Indonesia, Yaman, Abu Dhabi dan negeri lainnya di Tanah Arab. Inilah yang patut disyukuri, betapa besarnya perhatian Generasi Pendahulu kita yang telah mampu berbuat sesuatu untuk diketahui oleh anak cucunya. Disamping itu kebanggaan lainnya adalah anak cucu Al-Bahalwan sebagai warga keturunan Arab di Indonesia akan menjawab, apabila ada pertanyaan “ANTUM (ANDA) SIAPA DAN DARI MANA ASAL USULNYA ?" Pertanyaan tersebut, seakan ingin mengetahui lebih lanjut sampai tingkat berapa (biasanya sampai tingkat lima) kebiasaan orang Arab di Indonesia bila saling bertegur sapa.

Penulisan kembali silsilah ini untuk memudahkan mempelajari dan sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan seperti tersebut di atas. Tetapi yang paling utama dan terpenting dari semua itu adalah agar sesama Bahalwan baik laki-laki maupun perempuan dimana saja berada akan saling mengenal satu sama lainnya. Dan semoga dengan mengetahui jati dirinya itu, akan semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Al-Kholiq sebagai pencipta alam semesta dan menjadikan kita (manusia) bersuku bangsa dan agama. Dengan harapan kita saling mengenal.

Berikut ini akan penulis ceritakan kembali hasil interaksi penulis dengan beberapa pihak yang berkaitan dengan nasab Al-Bahalwan :
Dari Ustadz AHMAD BIN MAHFUD.
Tokoh Al-Irsyad yang paham betul sejarah Al-Irsyad Surabaya (sekarang tinggal di Jalan Johor No. 48 Surabaya) yang juga sahabat karib Ustadz Abdurrahman Bin Zein Bahalwan. Ketika beliau sakit dan penulis menjenguk di rumah sakit (sekitar 2 tahun yang lalu), dalam perbincangannya, Ustadz Ahmad Bin Mahfud cerita tentang kekagumannya pada Abdul Aziez Bahalwan, keponakan penulis. Kata Ustadz Ahmad, demikian biasa dipanggil, Aziez hafal dengan nasab ke atas sampai 30 generasi. Luar biasa daya ingatannya Aziez, tajam sekali.

Umumnya jamaah hanya hafal sampai 5 generasi di atasnya, itupun kadang-kadang tidak runtun/urut. Maklum karena tidak diberitau oleh orang tuanya, mungkin data yang dimiliki oleh orang tua juga terbatas, karena menganggap nasab tidak penting. Dan pada kesempatan lain, penulis bersilaturrahim kembali ke rumah Ustadz Ahmad Bin Mahfudz sekitar 3 bulan yang lalu dan cerita tentang hafalannya Aziez diulang lagi. Menurut hemat penulis ini menunjukkan kekaguman yang luar biasa dari Ustadz Ahmad kepada Aziez Bahalwan.

Sedangkan lain lagi komentar Ustadz Ahmad kepada abang penulis yang tidak lain adalah ayah dari Abdul Aziez Bahalwan, Muhammad (Moh) Bahalwan, Sakinah Bahalwan, dan Rita Bahalwan yaitu Ustadz Abdurrahman Bin Zein Bahalwan. "Abangmu (Ustadz Abdurrahman) orangnya ISTIMEWA,tidak pernah berkonflik dengan orang lain. Ketika dalam suatu acara sedang membicarakan orang lain (aib), maka abangmu langsung menghindar dan memilih diam. Sedangkan untuk abahmu (Zein Bin Abdurrahman Bahalwan)  orangnya kuat dalam memegang prinsip, disiplin dan selalu pakai TORBUS (kopyah khas orang Turki) yang ada koncernya. Dasar abahmu orangnya tinggi, besar dan kharismatik."

Ustadz Ahmad Bin Mahfud sekarang ini berumur 100 tahun Masehi / 103 tahun Hijriyah dan Alhamdulillah ingatannya masih tajam dan tenaganya juga kuat (terasa sekali ketika kita berjabat tangan, genggamannya).

Beberapa orang yang bertemu dengan penulis dan mengetahui jika penulis adalah anak abah Zein, maka orang tersebut memorinya langsung ingat TORBUS yang menjadi salah satu ciri khas abah Zein.                                                            

           

Dan bersama ini pula penulis ceritakan salah satu manfaat mempelajari nasab / garis keturunan.

Seperti yang diceritakan oleh Bang Fadhil Bin Abdurrahman Bahalwan ketika penulis silaturrahim ke rumahnya 10 tahun yang lalu dan cerita ini terjadi 20 tahun yang lalu.

Selengkapnya demikian.... Ada seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) keturunan Arab. Dia bermarga Alkatiri berasal dari Madura. TKI tersebut bekerja sebagai tenaga serabutan termasuk sebagai office boy di sebuah Apotik milik jamaah dari Indonesia di Abu Dhabi. Mungkin karena gajinya kecil (tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup termasuk sewa tempat tinggal), kemudian bosnya menyarankan untuk menjadi warga negara Abu Dhabi saja, agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik guna merubah nasib.

Pada saat itu ada kebijakan dari Yang Mulia Sultan Abu Dhabi untuk mendapatkan status warga negara Abu Dhabi harus memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah hafal nasab minimal 5 (lima) generasi ke atasnya. Kebijakan ini berlaku bagi warga keturunan Arab dimanapun berada (seluruh dunia). Tentunya panitia pencatatan tidak asal-asalan, mereka juga ahli nasab dan perlu kroscek data terlebih dahulu untuk memastikan kebenarannya terutama dari keturunan Yaman.

Akhirnya TKI tersebut mendatangi Kantor Pencatatan Sipil Abu Dhabi untuk menyampaikan keinginannya menjadi warga negara Abu Dhabi. Ketika dilakukan interview, TKI tersebut diminta menyebutkan asal usulnya / nasabnya. Dan TKI itupun menyebutkan dengan urut nasabnya hafal di luar  kepala, bahkan lebih dari 5 (lima) generasi di atasnya. 

Dan setelah diteliti oleh tim yang dibentuk oleh negara Abu Dhabi ternyata penyebutan TKI tersebut benar. Maka selang satu minggu kemudian, TKI ini mendapatkan panggilan untuk diterima sebagai warga negara Abu Dhabi. TKI tersebut (yang sekarang sudah resmi menjadi warga negara Abu Dhabi) mendapatkan pekerjaan dengan ditempatkannya di Apotik milik pemerintah.

Disamping itu juga mendapatkan rumah hak milik dengan FASILITAS LENGKAP dan GRATIS (air, listrik, dll). TKI tersebut heran seakan mimpi dan tidak percaya menerima semua fasilitas itu. Karena menurut dia, hanya dengan menghafal 5 (lima) nasab saja) dapat pekerjaan yang lebih baik dan bahkan rumah hak milik dengan fasilitas lengkap juga diperolehnya.

Kebijakan yang diambil oleh Yang Mulia Sultan Abu Dhabi tersebut, memaksa Radio BBC London untuk melakukan wawancara dengan pihak negara Abu Dhabi. Karena menurut Radio BBC London belum ada negara lain di dunia yang memberlakukan syarat sangat gampang untuk masuk menjadi warga negara seperti yang telah dilakukan oleh Abu Dhabi (dengan hanya menyebutkan minimal 5 nasab generasi di atasnya sudah dapat secara resmi menjadi warga negara Abu Dhabi).

Radio BBC London kagum dengan kebijakan yang diambil oleh Yang Mulia Sultan Abu Dhabi. Dan bagi penulis, itulah salah satu manfaat dan pentingnya mempelajari garis keturunan / nasab. Sekurang-kurangnya kita hafal nasab 5 (lima) generasi di atasnya, agar kelak dikemudian hari kita mendapatkan kemudahan/pertolongan seperti kisah TKI bermarga Alkatiri dari Madura-Indonesia itu.

Namun terlepas dari itu, Bahalwan junior harus tetap meningkatkan pengetahuan dan kompetensi keahliannya. Karena sekarang dan waktu yang akan datang, persaingan dunia kerja semakin ketat. Hanya mereka yang memiliki pengetahuan dan kompetensi / keahlianlah yang akan keluar sebagai pemenang.

Disamping itu yang tidak kalah pentingnya adalah kita bangun jaringan, salah satunya dengan mengetahui asal usul kita. Dengan harapan agar kemudahan dan pertolongan الله سبحانه وتعالى datang menghampiri kita. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar